Kopi dan Ketekunan
Sore itu, gang sempit di kawasan padat permukiman ramai. Beberapa orang sedang sibuk memperbaiki jembatan kecil karena jalan sedang diperbaiki. Anak-anak berlarian kian kemari, pedagang sayur mendorong gerobak, dan suara motor bersahutan melintasi jalan kecil itu. Di salah satu sudut gang itu, sebuah warung kopi sederhana tampak hidup. Di depannya terbentang spanduk cukup besar bertuliskan: WARKOP 86. Entah ada hubungan apa dengan 86 milik kepolisian hehe.
Ketika kami tiba, Pak Hadi tengah sibuk membantu warga membereskan jalanan yang sedang di perbaiki. Sementara Warkop miliknya telah lama siap. Dia kembali ke warung. Tangannya cekatan, langkahnya cepat. Meski sederhana, warung dengan warna mencolok ini tampak terurus. Ada bangku kayu, kursi plastik, meja kayu, dan rak kecil berisi camilan kemasan. Bau kopi hitam dan gorengan hangat langsung menyergap indera.
“Maaf ya, Pak, masih beberes,” sapanya ramah sambil tersenyum.
Kami mengangguk dan memperhatikan sekeliling. Letak warung ini strategis meskipun di gang kecil. Hiruk-pikuk warga sekitar justru menjadi nilai tambah: ada aliran manusia yang tak putus, siang maupun malam. “Warkop ini buka dari pagi sampai jam dua subuh,” kata Pak Hadi, sambil menuang air panas ke dalam cangkir. “Pelanggan saya kebanyakan warga sekitar, ada juga ojol dan anak-anak muda yang nongkrong sambil curhat.”
Bukan hanya suasananya yang menarik, tapi cara Pak Hadi mengelola usahanya juga patut dicontoh. Dalam obrolan yang mengalir santai, ia sampaikan caranya mengurus warkop miliknya. “Ketika hendak buka, saya hitung stok yang tersedia untuk memastikan bahan baku siap, pun ketika pulang, sekali lagi saya hitung untuk memastikan stok tersisa. Setiap malam saya hitung pendapatan kotor. Rata-rata 100 ribu, modal yang saya belanjakan sekitar 50 ribu. Jadi laba harian kurang lebih 50 ribu-an. Bagi saya itu sudah cukup baik,” jelasnya tenang, tanpa membesar-besarkan.
Tak lama kemudian, ia melirik sebuah kotak kayu kecil dengan gembok di bagian depan.
“Saya sebut ini keshos, Pak. Cash house,” katanya sambil tertawa kecil. “Isinya 500 ribu, untuk dana darurat. Kalau hari ini terpakai, malam nanti saya isi lagi biar tetap utuh. Itu yang saya praktekan selama ini.”
Warkop ini berdiri berkat akses pinjaman dari Credit Union Pelita Sejahtera. Dana yang diterima digunakan bukan untuk hal mewah, melainkan untuk kebutuhan yang langsung menunjang usaha: aneka kopi dan minuman sasetan, kue kering dan macam-macam cemilan, tambahan bangku, perlengkapan dapur, bahan baku, bahkan rak pajangan.
“Saya ini bukan orang kantor, tapi saya mau tertib. Usaha kecil begini harus dikelola. Saya nggak mau cuma buka warung, tapi nggak tahu uangnya lari ke mana.” Ini pernyataan yang kereen dari pak Hadi.
Perkataan itu disampaikan dengan suara pelan namun mantap. Jelas, di balik kesederhanaannya, Pak Hadi punya visi. Ia sadar, warkop kecil ini adalah pijakan awal menuju kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga keluarganya.
Sebelum kami pamit, saya sampaikan harapan Credit Union Pelita Sejahtera: semoga usahanya berjalan lancar, dan terus tumbuh. Ia tersenyum, menatap warkop yang pelan-pelan mulai berdatangan pelanggan petang.
“Saya percaya, asal dikelola dengan disiplin dan jujur, usaha ini bisa bertahan. Tidak harus besar dulu, yang penting kuat dasarnya.”
Kami meninggalkan gang sempit itu dengan kesan positif: bahwa semangat kewirausahaan tidak selalu hadir di ruang-ruang ber-AC dan meja kantor. Kadang ia tumbuh dari bangku plastik, dari cangkir kopi panas, dan dari tangan seorang warga biasa yang memilih untuk menata hidupnya dengan cermat.



